Hampir 2 tahun lebih kita bermuamalah dengan sebaran virus corona yang melanda negeri ini bahkan seluruh dunia. Virus yang mematikan ini menyerang semua kalangan, baik orang kaya, orang miskin, orang baik, orang tidak baik, pejabat maupun rakyat kecil tidak lepas dari serangan virus ini. Banyak yang meninggal dunia, ada yang tidak sampai meninggal dunia, ada yang kronis, tetapi masih tertolong. Namun, yang menyedihkan adalah orang-orang terdekat yang kita sayangi dan kita cintai harus meninggalkan kita karena terpapar virus corona.

Jiwa seakan meronta, hati seakan menolak semua kejadian yang memilukan ini, hidup seakan hampa tanpa orang-orang tercinta di dekat kita, baik itu saudara kita, orangtua kita, teman dekat kita maupun guru kita juga banyak yang meninggal dunia. Namun, ketika mengingat firman Allah bahwa setiap kejadian yang dialami oleh manusia sudah tertulis di lauhul mahfudz maka hati kita pun ridha dan tunduk akan ketentuan yang telah digariskan oleh Allah Ta’ala. Karena bagaimanapun, takdir Allah itulah yang terbaik untuk hamba-Nya bagi yang mau bersabar.

Hari demi hari berlalu, bulan berganti bulan bahkan tahun bertambah tahun, virus corona mulai menghilang di bumi ini. Tentu ini adalah pertolongan Allah Ta’ala. Skenario Allah dalam memberikan musibah ini akan menguji hamba-Nya, masih bersama Allah dengan bersabar akan ketentuan Allah atau mengeluh akan musibah ini dan tidak mau tunduk patuh kepada Allah lagi. Dalam surah Al-Mulk ayat 2 dijelaskan bahwa Allah menciptakan kita dalam menjalani kehidupan ini salah satunya bertujuan untuk diuji agar dapat diketahui hamba yang paling baik amalnya, yang masih beribadah, bersyukur, serta sabar atau hamba yang menjadi tambah jauh dari Allah karena ujian hidup.

Ujian berupa virus corona ini tentunya memberikan dampak yang besar. Salah satu yang kita rasakan bersama adalah masalah pendidikan anak-anak. Virus corona bermetamorfosis menjadi sutradara akan perubahan yang terjadi terutama dalam bidang pendidikan. Tatkala virus masih mengganas, hampir semua sekolah tutup. Hal ini memaksa para tenaga kependidikan untuk memutar akal mencari cara agar anak-anak tetap mendapatkan ilmu pengetahuan sekaligus bisa selamat dari terjangkitnya virus yang mematikan ini. Maka muncullah ide-ide atau gagasan, salah satunya diadakan pembelajaran secara daring.

Tentu ide pembelajaran daring ini memilik nilai positif karena anak-anak dengan mudah mendapatkan ilmu sekalipun tidak masuk sekolah. Hanya saja dibalik nilai positif tersebut ternyata muncul lagi ujian terhadap wali murid. Karena bagaimanapun gadget yang digunakan anak-anak jika tidak dikontrol dengan baik oleh orangtua maka akan berdampak buruk terhadap perkembangan anak-anak. Ini merupakan fakta yang sering kali terjadi di dunia pendidikan. Anak-anak yang tidak terkontrol akan penggunaan gadget akan menurun minat belajarnya bahkan prestasinya. Bukan hanya itu, anak-anak pun mulai durkaha dan membangkang kepada kedua orangtuanya karena pengaruh gadget. Belum lagi perilaku anak mulai berubah menjadi anak yang apatis, suka menyendiri, menjadi pemalas, berani terhadap guru, pribadi yang kasar dan pemarah, mulai suka berbohong, dan suka melawan. Semua ini pemicu utamanya adalah tidak bijaknya anak-anak dalam menggunakan gadget.

Menghadapi kondisi yang semacam ini, kita tidak bisa hanya menyalahkan anak-anak semata. Barangkali kita sebagai orangtua juga punya kontribusi dalam merusak anak-anak kita sendiri. Sadar atau tidak, kita orangtua yang selalu menyuguhi anak-anak gadget di depan mereka tanpa kita mengontrolnya adalah awal mula petaka anak-anak kita mulai berubah. Pikir kita, anak-anak yang menangis minta gadget atau ngambek akan teratasi ketika kita memberikan benda tersebut kepada mereka. Padahal itu adalah kesalahan yang jika dilakukan terus-menerus dan tanpa ada kontrol dari orangtua maka secara tidak langsung kita mulai merusak anak kita sendiri.

Usia anak sekolah adalah usia yang masih sangat labil. Anak-anak selalu penasaran dengan apa yang ada dalam gadget. Mereka mudah terbawa arus jika ada informasi yang datang, belum punya pegangan yang kuat, dan belum ada pendirian yang mumpuni. Sangat wajar jika mereka sangat mudah terbawa arus dunia gadget. Karena inilah sangat tidak wajar dan sangat tidak baik jika orangtua memberikan gadget kepada mereka dengan leluasa tanpa ada kontrol dari orangtua.

Penulis seringkali mendapat keluhan dari wali murid bahwa anaknya mulai berubah menjadi anak yang tidak baik perilakunya. Setelah penulis menanyakan hubungan gadget dengan anaknya ternyata memang anaknya diberikan gadget setiap hari tanpa ada kontrol. Demikian perilaku kita sebagai orangtua, kebanyakan kita tidak memahami masalah ini yang mungkin kita anggap sepele, tetapi akan berdampak negatif terhadap perkembangan anak kita.  Kita para orangtua mungkin akan bertanya, “Bagaimana dengan sekolah anak saya yang memakai sistem daring?” Maka kita jawab bahwa anak itu tidak dilarang memakai gadget jika digunakan untuk belajar. Namun, sekali lagi, kita wajib mengontrolnya. Jika sudah selesai digunakan maka tunjukkan ketegasan kita sebagai orangtua untuk mengambil kembali gadget tersebut dan diberikan lagi jika ada tugas dari sekolah. Sebenarnya anak-anak diperbolehkan menggunakan gadget untuk bermain (game), hanya saja ada dosisnya. Misalnya, dalam sepekan anak-anak menggunakan gadget selama setengah sampai satu jam pada akhir pekan. Ingat, bahwa hanya satu jam dalam satu pekan alias tujuh hari. Selebihnya kita yang menyimpannya.

Dari sini terlihatlah peran orangtua dalam mendidik dan membina anaknya. Mendidik anak kita pada zaman sekarang memang sangat berat daripada pada zaman dahulu karena memang belum ada gadget. Kita dituntut untuk selalu mengawasi anak kita 24 jam. Kita sebagai orangtua juga harus memiliki ketegasan dalam mendidik anak-anak kita. Orangtua perlu menjadi teladan terhadap anak-anaknya, jika anak-anak dibatasi dalam menggunakan gadget maka orangtua pun perlu mengatur waktu, mana waktu bersama gadget dan mana waktu bersama keluarganya. Jika bersama anak dan istri atau suami maka hendaknya tidak menggunakan gadget di hadapan mereka. Karena bagaimanapun anak-anak akan meniru perilaku kita.

Dalam mendidik anak-anak, kita tidak akan berhasil jika hanya mengandalkan kemampuan kita, sehebat apapun diri kita. Kita pasti membutuhkan Allah. Di sinilah orangtua memiliki peran agar senantiasa mendoakan anaknya pada setiap waktu yang mustajabah. Doa adalah senjata orang Islam. Tatkala kita mendidik ataupun kita merasa tidak mampu lagi dalam mendidik anak kita, maka letakkan kening kita di atas sajadah dan berbisiklah memohon kepada Allah akan keluhan kita dalam mendidik anak kita, maka Allah akan mengabulkan doa kita. Selain itu, kita sebagai orangtua perlu ilmu dan juga amal saleh. Jika kita sebagai orangtua menginginkan anak-anak kita tumbuh menjadi pribadi yang saleh dan salehah dan berbakti maka kita perlu memiliki ilmu. Baik ilmu agama dan ilmu bagaiamana mendidik anak kita. Kita juga dituntut untuk rajin beramal saleh. Orangtua harus menjadi orangtua yang rajin salat, mengaji, sedekah, dan tidak tidak melanggar larangan Allah. Karena kesalehan orangtua akan berdampak pada kesalehan anak kita. Dan satu lagi bahwa di antara sebab baiknya anak kita adalah halalnya nafkah yang kita berikan kepada anak kita. Anak adalah aset kita yang sangat berharga, bahkan tatkala kita meninggal dunia, anak-anak kita masih mengirim pahala untuk kita dengan syarat anak kita adalah anak yang saleh dan mendoakan kita. Oleh sebab itu, mari kita jaga mereka dari segala bentuk keburukan yang akan menimpa mereka dengan doa dan usaha sebagaimana telah kami sebutkan di atas.

Di akhir tulisan ini, penulis kembali mengingtkan bahwa mulai saat ini, pembelajaran daring mulai berkurang, semua kembali normal seperti beberapa tahun sebelumnya. Tentu saja penggunakan gadget juga mulai berkurang dalam proses belajar dan mengajar. Maka hendaknya kita sebagai orangtua memiliki ketegasan agar mengambil kembali gadget yang ada pada anak dan diberikan kepada mereka jika digunakan untuk belajar dengan kontrol dari orangtua.

Semoga tulisan singkat ini dapat menjadi ibroh bagi penulis dan bagi para pembaca yang budiman. Semoga Allah menjadikan kita pribadi yang taat akan perintah Allah dan semoga anak-anak kita tumbuh sehat dan menjadi anak-anak yang saleh/ah serta berbakti untuk orantuanya, agama dan bangsanya. Aamiin. (Hasan)