Bagi sebagian orang, membaca adalah kegiatan yang sangat membosankan dan berisiko menyebabkan kantuk. Namun, bagi mereka yang tidak bisa melalui hari tanpa membaca tidak akan segan mendeklarasikan bahwa sahabat terbaiknya adalah buku. Melalui buku, kita mendapatkan berbagai perspektif yang mungkin sebelumnya tidak pernah terpikirkan oleh otak kita. Buku adalah jendela ilmu. Klise memang, tetapi realitanya memang seperti itu. Lalu, apakah hanya buku pelajaran atau buku non-fiksi saja yang dapat memberikan insight yang ciamik untuk kita? Tentu tidak. Buku fiksi pun di dalamnya mengantongi berbagai nilai-nilai moral yang dapat membantu kita mengembangkan sisi emosional kita, salah satunya meningkatkan rasa empati. Buku dengan genre apapun, di dalamnya pasti ada sebuah pesan positif yang bisa kita gali. Berikut rekomendasi buku dari berbagai genre dengan resensi singkatnya.

  1. 1.     Antologi Puisi

Puisi memang lebih sulit dipahami daripada buku bergenre lain. Pasalnya, puisi mengandung hal-hal tersirat nan ambigu di dalamnya sehingga tafsiran makna dari pembaca bisa jadi berbeda dengan maksud yang ingin disampaikan oleh penyair. Salah satu antologi puisi yang layak untuk dibaca ialah Percakapan Paling Panjang Perihal Pulang Pergi karya Theoresia Rumthe dan Weslly Johannes. Puisi-puisi di dalamnya ditulis dan disusun dengan format seperti dialog yang bersahutan antara Theoresia dan Weslly. Mengusung topik tentang pulang pergi, mereka menyampaikannya melalui diksi yang menggambarkan berbagai bentuk kepulangan dan kepergian.

Buku kedua yaitu Panduan Sehari-hari Kaum Introver dan Mager oleh Lucia Priandarini. Buku ini lebih mudah dipahami daripada buku yang disebutkan sebelumnya karena ditulis dengan diksi yang kekinian dan susunan katanya unik, indah, dan menggelitik. Permainan kata yang disuguhkan juga menawan dan menampar pembaca untuk lebih menyadari realita sekitar. Tema yang diangkat mayoritas adalah keadaan saat pandemi. Selain itu, tema lain juga muncul, seperti harapan, mimpi, dan keperempuanan.

Jika menyebutkan antologi puisi, tidak lengkap rasanya jika tidak menyebutkan salah satu nama sastrawan besar Indonesia, sang legenda Eyang Sapardi Djoko Damono. Sudah banyak antologi puisi yang dibukukan dan diterbitkan, salah satunya yang paling populer adalah Hujan Bulan Juni. Namun, yang direkomendasikan di sini adalah buku antologi dengan judul lain, yakni Perihal Gendis. Dalam antologi ini, puisi-puisi yang digubah oleh Eyang Sapardi berputar soal gadis remaja bernama Gendis yang dirundung kesepian. Di beberapa puisinya, beliau mengisyaratkan bahwa Gendis tinggal di rumah sendirian bertemah hujan, lukisan, dan angin. Di sampul depan buku ini, mendiang Eyang Sapardi menuliskan:

perihal gendis

di rumah sendirian

:

ayahnya pamit pergi ke selatan

ibunya bilang menyusul ke utara

 

  1. 2.     Kumpulan Cerpen

Jika novel dirasa terlalu tebal untuk dibaca, kita bisa memulai dengan membaca cerpen yang bisa diselesaikan dalam sekali duduk. Ada beberapa kumpulan cerpen karya penulis Indonesia yang cocok untuk menemani waktu luang kita. Kumpulan cerpen yang pertama yaitu karya Maria Antonia Rahartati Bambang Haryo berjudul Jeruk Kristal. Buku ini berisi sepuluh cerpen dan satu novelet yang menyuguhkan nuansa jadul nan menghangatkan dari Yogyakarta, Jakarta, dan Perancis. Buku ini dilengkapi dengan ilustrasi yang memanjakan mata. Cerita-cerita yang diusung bermuara pada satu kata, yakni kekeluargaan. Meskipun tidak semua cerpen menyoroti hubungan antarkeluarga, tetapi relasi yang ditunjukkan dalam narasi-narasi di buku ini selalu mengingatkan kita tentang kekeluargaan.

Buku kedua yaitu Memburu Muhammad karya Feby Indirani. Kisah-kisah yang disampaikan oleh Feby bernuansa sufistik, tetapi di saat yang bersamaan ia memberikan sentuhan yang sangat epik dan unik di ceritanya karena ia hubungkan dengan kondisi sosial masa kini.

Buku ketiga yaitu karya mendiang Rusdi Mathari berjudul Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya. Kumpulan cerpen dalam buku ini amat menyenangkan, menghibur, sekaligus memberikan bermacam pengingat perihal ajaran Islam. Buku ini dibagi menjadi dua bagian, yaitu Ramadan Pertama dan Ramadan Kedua. Semua cerpennya diperankan oleh tokoh yang sama, yakni Cak Dlahom dan para masyarakat Desa Ndusel. Didominasi dengan dialog-dialog yang jenaka, tetapi kuat akan pesan moral dan nilai keislaman, Cak Dlahom dengan gaya selengekannya selalu berhasil membuat lawan bicaranya tergugu bahkan menangis.

Buku keempat yakni kumpulan cerpen berjudul Once Upon an Eid karya beberpa penulis mancanegara, seperti S. K. Ali, Aisha Saeed, Hanna Alkaf, dan Hena Khan. Cerita-cerita di buku ini sederhana karena ditulis dari perspektif anak-anak. Latarnya pun di berbagai belahan dunia, seperti Turki, Iraq, Pakistan, dan Malaysia. Lewat buku ini, kita diajak untuk bernostalgia tentang suasana Idulfitri lewat kacamata kita waktu kecil. Sayangnya, buku ini masih belum diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

  1. 3.     Novel

Jika mendengar nama Andrea Hirata, yang muncul di benak mayoritas orang adalah Laskar Pelangi. Yap! Memang Laskar Pelangi telah mendunia. Namun, apakah kalian familier dengan karya Andrea Hirata yang berjudul Ayah? Andrea Hirata merupakan penulis yang cerdas dalam narasinya. Ia membubuhkan kesan jenaka di cerita-ceritanya, terkadang terdengar absurd, tetapi jika ditelisik lebih dalam, kejenakannya tersebut menyimpan sebuah

kritikan sosial. Novel Ayah ini menceritakan tentang keteguhan dan kasih sayang seorang Ayah untuk anaknya, meskipun anak tersebut bukanlah anak kandungnya. Selain itu, melalui novel ini Andrea Hirata juga menyuguhkan kesetiakawanan yang mengharukan dan kisah cinta yang penuh ketulusan dan keikhlasan.

Selanjutnya ialah Funiculi Funicula karya penulis Jepang, Toshikazu Kawaguchi. Novel dengan genre fantasi ini mengusung tema time turner. Jika mayoritas novel dengan tema time turner adalah memiliki tujuan untuk mengubah masa depan, konsep time turner di novel ini berbeda. Semua tokohnya bisa kembali ke masa lalu atau berselancar ke masa depan, tetapi hal tersebut tidak akan mengubah keadaan sedikitpun. Masa ‘berselancar’ itu hanya bisa terjadi di salah satu meja di kafe bernama Funiculi Funicula, durasinya pun juga dibatasi oleh asap yang mengepul dari kopi yang dipesan. Jika kopi tersebut sudah mendingin, maka orang yang tengah berkunjung ke masa lain harus segera kembali.

Yang terakhir adalah The Island of Missing Tree karya penulis Turki-Inggris, Elif Shafak. Novel ini berlatarkan sejarah perebutan wilayah yang terjadi di daerah Cyprus pada tahun 1974. Topik utama yang disuguhkan oleh penulis adalah tentang alam. Betapa manusia selalu tidak bisa mensyukuri kekayaan alam yang dimiliki. Human took them for granted. Melalui novel ini, Elif menghidupkan pohon tin untuk menceritakan sejarah yang ia saksikan. Cerita tentang kerusuhan di Cyprus, tentang tragedi Yiorgos dan Yusuf, serta tentang Defne dan Kostas. Pohon tin itu hidup cukup lama untuk menyimpan berbagai trauma dan kesulitan dari masa ke masa. Dari novel ini, kita bisa tahu bahwa tidak hanya manusia yang menyimpan trauma dari peperangan, tetapi tumbuhan juga. “…wherever there is war and a painful partition, there will be no winners, human or otherwise.” Sayangnya, novel ini masih belum diterjemahkan dalam bahasa Indonesia sehingga jika ingin mengaksesnya, kita bisa membelinya secara fisik di toko buku impor atau secara digital di platform google play book atau kindle.

  1. 4.     Non-fiksi (self-help)

Siapa di antara kita yang tidak mengenal kata healing? Healing atau yang berarti menyembuhkan kini sudah mengalami perluasan makna. Para muda-mudi masa kini seringkali menggunakan kata healing sebagai kedok untuk bersenang-senang atau bahkan berfoya-foya. Tidak ada yang salah untuk traveling, mengunjungi kafe-kafe unik yang memanjakan mata, atau bahkan sekadar berbelanja di mal. Namun, yang perlu diingat, idealnya, healing diawali dari akarnya, yakni diri sendiri. Oleh karena itu, berikut ada beberapa buku yang bisa memberikan insight tentang cara melihat dan memahami diri lebih dalam.

Buku pertama yaitu buku terbitan Pijar Psikologi yang di dalamnya berisi beberapa esai. Ditulis oleh para psikolog, buku berjudul Yang Belum Usai mengajak kita untuk mengenali luka batin dan cara memulihkannya. Dibagi menjadi empat bab besar berdasarkan langkah untuk menyembuhkan luka batin, esai-esai dalam buku ini tidak terkesan menggurui, melainkan seperti mengajak pembaca berdialog tentang seberapa jauh kita dalam mengenali diri atau seberapa banyak cinta yang telah kita berikan untuk diri sendiri. Karena ditulis oleh psikolog, buku ini juga memuat beberapa istilah-istilah medis yang berkaitan dengan psikis.

Buku kedua yakni karya salah seorang perawat di rumah sakit jiwa, Maria Frani Ayu. Berjudul Agnosthesia yang berarti ketidakmampuan untuk mengenali emosi, buku ini pada dasarnya menceritakan pengalaman empiris penulisnya. Cara-cara mengenali dan mengendalikan emosi yang dituliskan oleh Maria tidak terkesan menggurui, membosankan, dan repetitif melainkan sangat sederhana dan aplikatif. Penulis juga menjabarkan topik tentang kesepian dan mencantumkan data terkait kesepian kronis dapat meningkatkan risiko cepat meninggal. Hal tersebut membuat pembaca diingatkan bahwa kesepian merupakan hal yang sangat berbahaya.

Buku terakhir yaitu berjudul Love for Imperfect Things karya seorang biksu dari Korea Selatan, Haemin Sunim. Setiap bab dalam buku ini diawali dengan kisah-kisah kecil nan singkat seolah hal tersebut merupakan upaya pendekatan penulis dengan pembaca agar lebih dekat sehingga saran atau wejangan yang akan diberikan oleh Haemin-nim akan lebih mudah diterima. Kalimat-kalimat yang penulis gunakan merupakan kalimat sederhana yang mampu menghangatkan kita saat kita sedang lelah mental maupun emosional. yang Buku ini juga dilengkapi dengan ilustrasi-ilustrasi cantik di dalamnya. Ada satu kutipan yang mengingatkan kita bahwa kita semua pada dasarnya adalah seseorang yang sangat berharga. “We are worthy of being loved not because of what we do well but because we are precious living beings.

  1. 5.     Keperempuanan

Buku tentang keperempuanan yang pertama dan utama tentunya buku karya Ibu Nur Rofiah, dosen pascasarjana Ilmu Al-Quran dan Tafsir di Perguruan Tinggi Ilmu Al-Quran (PTIQ). Buku pertamanya ini diberi judul Nalar Kritis Muslimah. Di dalam buku ini beliau memaparkan berbagai hal terkait tentang keperempuanan, kemanusiaan, dan keislaman. Tulisan-tulisan beliau selalu didasari oleh Al-Quran dan Hadis sebagai pedoman umat Islam. Tentunya, beliau tidak hanya sekadar mencomot ayat atau sabda Nabi, melainkan menjelaskan terjemah dan tafsirnya pula. Tagline beliau adalah keadilan gender. Oleh karenanya, dalam buku ini Bu Nur mengangkat berbagai macam topik, di antaranya pengalaman khas perempuan, citra perempuan, woman’s way of knowing, prinsip dasar pernikahan, dan pola pengasuhan anak.

Kedua, buku berjudul Sister Fillah, You’ll Never Be Alone karya Kalis Mardiasih. Melalui buku ini, Mbak Kalis mengangkat hal substansial tentang perempuan yang perlu dan penting diketahui oleh semua manusia, tidak hanya sesama perempan. Penulis tidak berusaha menjejali kita dengan doktrin tertentu melainkan mengajak kita untuk berpikir dan merekonstruksi pemikiran kita. Bahasa yang digunakan dalam buku ini kekinian sehingga mudah dipahami oleh pembaca.

Terakhir, buku yang diterbitkan oleh Magdalene.co berjudul Her Story: Perempuan Nusantara di Tepi Sejarah. Buku ini merupakan biografi singkat dari tokoh-tokoh perempuan yang memiliki andil besar untuk negeri, tetapi namanya jarang sekali disebutkan dalam narasi sejarah. Dari buku ini kita menyadari betapa banyak perempuan yang berperan besar dalam berbagai lini kehidupan dan dari zaman ke zaman. Kontribusi mereka yang tak terekspos ini dapat menjadi pemantik rasa penasaran kita untuk mempelajari sejarah bangsa lebih dalam.

Buku-buku yang telah disebutkan di atas hanyalah sebagian contoh kecil dari jutaan buku yang bisa kita baca. Jika kita merasa bahwa buku tertentu tidak menarik minat kita, maka tinggalkan. Carilah buku lain, terus-menerus, sampai kita menemukan buku yang membuat kita jatuh cinta pada buku tersebut dan akhirnya membuat kita jatuh cinta juga pada membaca. There’s no friend as loyal as book. Selamat menemukan buku untuk dicintai. (R)