Teruntuk Permata
yang kadang-kadang membawa kilau yang berkelintar untuk tawa-tawa yang berkelakar,
yang kadang kadang membawa mendung yang kelabu lagi pilu yang membuat kemuning matahari kelu,
yang kadang-kadang memanggul tangguh dengan tubuh kukuh meski penuh peluh
yang kadang-kadang bermandikan lumpur berdebur yang setiap hari menyulur tanpa tidur
Berteduhlah selagi langit menggigil menurunkan butir dengan petir yang menaruh getir
Berpeganglah selagi tanah merekah menyemburkan ambah dengan panah yang memangku getah
Kala esok semuanya sudah mereda, angkatlah tanganmu untuk menyeka, angkatlah kakimu untuk melangkah
karena bagaimanapun juga, rupamu adalah rupa permata

(Khurin Wardani Fitroti)

?>