Selasa (20/02/2024), tiga siswa MTs Surya Buana mengikuti konferensi daring mengenai pendidikan yang diselenggarakan oleh Generation Global. Mereka bertiga, yaitu Arina Nur Shadrina, Kenzie Rezvan Yusliadi, dan Bahril Hamdan, berdialog secara virtual dengan 12 siswa India yang berasal dari Podar Internasional School Howrah.

Generation Global merupakan sebuah platform rintisan Tony Blair yang bertujuan untuk membahas isu-isu popular di dunia, seperti pemanasan global, media sosial, kesehatan mental, maupun kesejahteraan masyarakat. Sasaran kegiatan ini diutamakan untuk pelajar sedunia berusia 13 - 17 tahun. Melalui konferensi yang diadakan Generation Global ini, para pelajar dapat saling tekoneksi antarbudaya, sebagai pintu gerbang untuk memperluas perspektif, dan kunci untuk mempelajari seni dialog.

Acara dibuka oleh host dari acara konferensi Generation Global dengan sapa-menyapa dan memperkenalkan diri satu persatu. Setelah selesai, dilanjut dengan sesi bincang-bincang yang membahas tentang pendidikan (education) yang di Indonesia dan India.

Sepanjang jalannya acara, peserta yang mengikuti Generation Global ini akan diberi beberapa pertanyaan ringan terkait mata pelajaran serta sistem pembelajaran yang ada di Indonesia dan India. Ada juga hal baru yang kita dapat di video conferences dan satu pertanyaan bonus mengenai pembelajaran di Indonesia yang menguatkan tulis tangan atau projek seperti Ilmu pengetahuan alam. Beberapa hal yang dijadikan bahan dialog di antaranya adalah mata pelajaran apa saja yang ada di Indonesia dan mata pelajaran apa yang disukai.

Mendapat pertanyaan tentang pendidikan di Indonesia, dalam konferensi tersebut Kenzie mengatakan bahwa sistem pembelajaran di Indonesia menggunakan dua kurikulum yang disebut K13 dan Merdeka. K13 menggunakan  buku berbeda dengan kurikulum Merdeka yang menggunakan alat teknologi seperti gawai."

Berganti sesi, kini yang bertanya adalah siswa India. "Apakah di Indonesia mengkuatkan pembelajaran tulis tangan atau projek seperti Ilmu pengetahuan alam?" tanya salah satu siswa dari India.

Perwakilan dari MTs Surya Buana menjawab "Di Indonesia lebih dominan projek dari pada tulis tangan."

Seorang siswa lain dari India menanggapi bahwa sekolah di India lebih sering mengutamakan tulis tangan dibanding projek seperti Ilmu Pengetahuan Alam. Oleh karena itu, sekolah di India berbeda dengan Indonesia yang lebih mengkuatkan projek dari pada tulis tangan.

"Karena di Indonesia sudah mempunyai projek yang bernama P5P2RA. Singkatan dari Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila dan Profil Pelajar Rahmatan lil Alamin," ujar Arina.

"P5 adalah suatu projek seperti Ilmu Pengetahuan Alam, tetapi bedanya mempunyai pergantian tema di setiap bulannya," Hamdan menambahkan.

Sebelum acara ditutup, host memberi pertanyaan terakhir, yaitu tentang hal baru yang kita dapat pada video conferences Generation Global.

"Kita dapat mengetahui kata-kata baru, susahnya berkomunikasi satu sama lain dan berharap pertemuan virtual ini bermanfaat untuk hidup kita," ujar Hamdan.

Selesai sudah acara Generation Global ini, banyak sekali makna penting yang diperoleh siswa dengan mengikuti kegiatan ini. Mereka dapat mengetahui bahwa sistem pembelajaran yang berada di luar sangat berbeda dengan Indonesia. Selain itu, juga menambah pengalaman baru dalam berbincang dengan orang luar negeri serta mengetahui betapa pentingnya mempelajari bahasa Inggris lebih dalam. (Arina Nur Shadrina dan Aulia Naysa Asyra Syakieb/Kelas 8B)

?>